Arti Politik Versi Rakyat
Setiap kalangan mempunyai pandangan
yang berbeda dalam dimensi politik. Misalnya saja para mahasiswa atau para
intelektual menyatakan bahwa politik adalah suatu dimensi ilmu yang membahas
tentang aspek negara, kekuasaan, dan bagimana cara meraih serta
mempertahankannya demi mewujudkan tujuan bersama.
Pemahaman politik tersebut menjadi beragam intinya jika para
akademisi maupun kaum intelektual beranggapan bahwa negara dan tujuan bersama
harus diwujudkan. Sementara para politisi beranggapan bahwa politik merupakan
cara meraih kekuasaan serta mempertahankannya. Berbeda dengan masyarakat yang
beranggapan bahwa politik menjurus ke hal yang sifatnya negatif. Ironis memang
bahwa dimensi politik itu dianggap oleh masyarakat merupakan tatanan yang
sangat buruk dan sifatnya destruktif.
Banyak masyarakat umum yang merasa
tabu mendengar kata politik. Mereka memahami dengan konotasi negatif. Jika ditanya
persepsi apa yang muncul jika mendengar kata politik, jawabanya beragam.
Politik identik dengan korupsi, perebutan
kekuasaan, strategi, menghalalkan segala cara, partai. Kenyataanya apakah
memang seperti itu pengertian dasar dari politik itu sendiri… ? coba kita
pelajari lebih mendalam; apasih arti pilitik, mengapa kita harus berpolitik, bagaimana
seharusnya kita berpolitik ?.
Masyarakat Indonesia dihadapkan dengan
system pemerintahan yang berubah-ubah dari tahun 1945 di zaman pemerintahan
Soekarno saat kemerdekaan sampai Jokowi di tahun 2014 sekarang. Hal tersebut
membuat masyarakat dihadapkan dengan system perpolitikan yang kompleks disetiap
pemerintahanya. Gaya kepemimpinan yang korup, otoriter, perebutan kekuasaan, dan
politik partai serta berbagai gejolak politik yang ada membuat frame pemikiran
masyarat Indonesia menginterpretasikan arti politik dengan berbagai penafsiran.
Memahami pengertian dasar dari politik
pada hakikatnya kita mempelajari tentang ‘kenegaraan’. Politik adalah ilmu
tentang Negara, tentang pemerintah atau pengetahuan tentang hidup bernegara.
Menurut Prof Miriam Budiarjo, mengatakan bahwa “politik adalah
bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistim politik (negara) yang menyangkut
menentukan tujuan-tujuan dari sistim itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu”.
Dalam konsep tersebut dapat dilihat
bahwa tujuan utama ilmu politik adalah untuk negara, dan bukan hanya sekedar kekuasaan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kekuasaan adalah salah satu unsur penting dalam
ilmu politik, tapi kita tidak dapat “melewati” begitu saja unsur yang sangat
penting dalam konsep tersebut, yaitu negara (tujuan negara). “Kekuasaan” dalam
konsep tersebut adalah hanya sebagai alat untuk mewujudkan tujuan negara. Landasan
dasar politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat, dan bukan
tujuan pribadi seseorang, apakah dengan kalimat seperti ini masih ingin
menyebut bahwa ilmu politik adalah “ilmu yang mempelajari bagaimana mendapatkan
kekuasaan ?... “setelah kita mengetahui akar permasalahannya, maka titik tekan
utama adalah pada oknum, kelompok dan organisasi yang menjalankan dan
mengendalikan system politik tersebut.
Dari sinilah mari kita membedakan, bagaimana
politik diartikan dari sudut pandang orang yang menjalankan system politik itu
sendiri jika mereka menggunakan cara dan strategi yang baik, maka politik pun
akan dinilai baik. Tetapi jika menyalahgunakan otoritas kekuasaanya dalam
menjalankan system perpolitikan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingan
sepihak atau golongan, maka politik akan dinilai sebagai sebuah jalan yang
buruk. inilah yang menjadikan masyarakat menilai politik dengan anggapan yang
miring.
Penyadaran kepada masyarakat perlu
ditumbuhkan tentang arti penting politik. Tidak semestinya hanya karena
pelaksanaan system perpolitikan yang buruk karena oknum atau golongan
menjadikan kita memandang politik suatu yang negatif apalagi sampai bersikap apatis. Persepsi buruk tetang politik harus
kita ubah. Kenyataanya dengan berpolitik kita dapat memperoleh wawasan,
pengetahuan, dan pemahaman tentang politik, baik sebagai ilmu maupun proses
kegiatan sehingga tidak hanya menjastis politik itu buruk, tetapi juga dapat
mengetahui darimana akar penyebab permasalahan dan dapat berkontribusi dalam
perbaikan politik itu sendiri.
Tentunya kita dapat menarik kesimpulan
bahwa politik itu hanya sebuah skema dalam keilmuan sementara arah politik itu
sendiri dilakukan oleh aktor selaku pelaksana. Aktor ini yang membawa dan
mengarahkan system politik itu sendiri menuju sisi positif atau negatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar